Kamis, 24 Juli 2008

TUGAS 3:

Carilah lima filsuf terkemuka Yunani beserta pendapatnya.

Jawab:


1. Thales

Thales (624-546SM) orang Miletus itu digelari Bapak filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yang jarang diperhatikan orang. Thales bertanya tentang apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Ia sendiri menjawab air, karena air sebagai asal alam semesta, barangkali karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang amat diperlukan dalam kehidupan, dan menurut pendapatnya bumi ini terapung di atas air.

2. Anaximander

Anaximander mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya (Mayer,1950:19). Anaximenes mengatakan itu udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan, demikian alasannya. Pembicaraan ketiga filsuf ini saja telah memperlihatkan bahwa di dalam filsafat terdapat lebih dari satu kebenaran tentang satu persoalan. Sebabnya ialah bukti kebenaran teori dalam filsafat terletak pada logis atau tidaknya argument yang digunakan, bukan terletak pada kongklusi. Di sini sudah kelihatan bibit relativisme yang kelak dikembangkan dalam filsafat sofisme.

3. Heraclitus

Paham relativisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus (544-484 SM) menyatakan,”you can not step twice into the same river; for the fresh waters are ever flowing upon you” (engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir)(Warner, 1961:26).

Menurut Heraclitus alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingan. Itu berarti kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Kosmos itu tidak pernah berhenti (diam), ia selalu bergerak dan bergerak berarti berubah. Gerak itu menghasilakn perlawanan-perlawanan. Itu sebabnya ia sampai pada kongklusi bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahannya seperti yang dipertanyakan oleh filosof pertama itu, melainkan prosesnya (warner,1961:28) pernyataan “semua mengalir” berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang sederhana. Implikasi pernyataan ini sangat hebat. Pernyataan ini mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak tetap. Pengertian adil pada hari ini belum tentu masih benar besok. Pandangan ini merupakan dasar filsafat sofisme.

4. Aristoteles

Aristoteles murid dan juga teman serta guru plato adalah orang yang mendapat pendidikan baik sebelum menjadi filosof. Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat berfikir saintifik ini besar pengaruhnya pada aristoteles.

Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di stagira sebuah kota di Thrace. Di dalam dunia filsafat Aristoteles terkenal sebagai Bapak logika. Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern, logika Aristoteles itu sering juga disebut logika formal.

Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, Aristoteles dalam Metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran (Mayer:152). Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting ialah pendapatnya yang mengatakan bahwa matter dan form itu bersatu; matter memberikan substansi sesuatu, form memberikanpembungkusnya. Setiap objek terdiri atas matter dan form (Mayer:155) jadi ia telah mengatasi dualisme plato yang memisahkan matter dan form; bagi plato matter dan form berbeda sendiri-sendiri. Ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.

Namun, ada substansi yang murni form, tanpa potentiality, jadi tanpa matter, yaitu tuhan. Aristoteles percaya adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak.

5. Socrates

Socrates lahir di Athena pada tahun 470 sebelum Masehi dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya tukang pembuat patung, ibunya bidan. Pada permulaannya Socrates mau menuruti jejak bapaknya, menjadi tukang pembuat patung pula. Tetapi akhirnya ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung ia membentuk watak manusia.

Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malahan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.

Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.

Dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu metodenya disebut maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak.

Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap daripada sesuatunya. Sebab itu ia selalu bertanya: apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan tentang “apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Ini biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya dengan “apa itu”. Oleh karena jawab tentang “apa itu” harus dicari dengan tanya jawab yang mungkin meningkat dan mendalam, maka Socrates diakui pula—sejak keterangan Aristoteles—sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Dalam berjuang mencari kebenaran yang umum lakunya, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak seluruh filosofinya.

Oleh karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu bersangkutpaut. Induksi menjadi dasar definisi.

Induksi di sini berlainan artinya ari induksi sekarang. Menurut induksi paham yang sekarang penyelidikan dimulai dengan memperhatikan yang satu-satunya dan dari situ—dengan mengumpulkan—dibentuk pengertian umum lakunya. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut di atas, dari lawannya bersoal jawab, yang masing-masing terkenal sebagai ahli dalam vaknya sendiri-sendiri, dikehendakinya definisi tentang “berani” “indah” dan lain sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu pengertian tidak mencukupi, maka dari ujian itu pengertian dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikianlah seterusnya. Contoh Socrates bekerja itu dapat diketahui dari dialog-dialog Plato yang mula-mula, di mana caranya berfilosofi masih dekat sekali kepada Socrates.

Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Dengan melalui induksi sampai kepada definisi. Definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum lakunya. Pengertian menurut paham Socrates sama dengan apa yang disebut Kant: prinsip regulative, dasar menyusun. Dengan jalan begitu, hasil yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subyektif, seperti yang diajarkan oleh kaum sofis, melainkan umum sifatnya, berlaku untuk selama-lamanya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.

Dengan caranya itu Socrates membangunkan dalam jiwa lawannya bersoal jawab keyakinan, bahwa kebenaran tidak diperoleh begitu saja sebagai ayam panggang terlompat ke dalam mulut yang ternganga, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Sebab itu tepat sekali Socrates mengatakan: budi ialah tahu. Maksudnya, budi baik timbul dengan pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran sufisme mau dibentuk kembali.

Tidak ada komentar: